<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/8187955171401330385?origin\x3dhttp://running-princess.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Say hi!
Welcome to running-princess.blogspot.com ! welcome to our blog, c'mon let's run the race together:))

His Words for today



about us
Different background ladies who are willing to love Jesus more and spread His Love and His Shine everywhere we step our selves to be blessing for others. Follow His calling and vision in our lives To build ourselves become the House of Prayer for others who want to share with us. We'd love to hear ur testimonial, esp. the unmarried yet ladies...share ur stories with us. Let's become the next Ester, Deborah, Hana, Ruth, Mary, among this geneartion




Right click
Blog writer

What To do
fast and pray for His calling upon us remember ladies it's not about getting holy hungry but getting holy heart :D

Chat with us



Archives



Thursday, October 30, 2008
11:58 AM

Luangkan waktu

Aku hendak memuliakan Tuhan Selama aku hidup,dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.
Mazmur 146:2

Luangkan waktu untuk berpikir,karena itu sumber kekuatan.
Luangkan waktu untuk membaca,karena itu merupakan dasar kebijaksanaan.
Luangkan waktu untuk bermain,karena itu merupakan rahasia awet muda.
Luangkan waktu untuk berdiam,karena itu merupakan kesempatan mencari TUHAN.
Luangkan waktu untuk peduli, karena itu merupan kesempatan untuk menolong sesama.
Luangkan waktu untuk tertawa,karena itu merupakan musik bagi jiwa.
Luangkan waktu untuk bermimpi,karena dengan itu masa depan dibentuk.
Luangkan waktu untuk berdoa,karena itu merupan kekuatan terbesar di bumi.
Luangkan waktu untuk bersikap ramah,karena itulah jalan menuju bahagia.
Luangkan waktu untuk berharap,karena itu merupakan sumber visi yang besar.
Luangkan waktu untuk bermazmur memuliakan ALLAH Kita,karena itulah kerinduan ALLAH and The Reason Why You Created.
Tahukah anda bahwa setiap orang memiliki waktu 86.400 detik setiap harinya...? Jika kita tidak memanfaatkan detik-detik yang ada dengan sebaik-baiknya,maka waktu itu akan hilang tak berbekas karena jarum jam tidak pernah menunggu kita.
Waktu adalah aset yang berharga untuk meraih sebuah keberhasilan. Selama kita mempunyai waktu,maka selama itu pula kita mempunyai peluang untuk melakukan hal-hal yg bermanfaat.
Yang membedakan orang Sukses dengan orang yang Failed (Gagal) adalah bagaimana mereka mengisi waktu di sepanjang hidupnya,selagi ia ada.

Soo...What do you waiting For...?
Prioritaskan waktu anda dengan tepat maka hasil yang luar biasa akan anda rasakan..
dan isilah jam demi jam setiap hari dengan kegiatan yang membawa anda ke pintu sukses,agar anda tidak menyesal...

-RB-

Run.. run... run..


Friday, October 24, 2008
9:40 PM

anak perempuan Yefta

Nambah satu orang lagi yang ingin gw temui ketika disurga, yaitu anak perempuan Yefta. Kenapa?

Begini begini

Kemaren lagi baca alkitab, tak sengaja membaca kitab hakim-hakim, dan membaca perikop dengan judul nazar Yefta (Hak 11:29-40).

Hayo buka,

Nah kalo bandel gak mau buka alkitab juga,

Tenang anda akan tetap terpaksa membacanya!! Hahahha

Gw ceritain ajalah ya

Ceritanya si Bapak Yefta ini lagi berperang melawan bani Amon, trus dia bernazar ama Tuhan, die bilang…

Judges 11:30-31 "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, 31 maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran."

Akhirnya si bapak Yefta itu menang,

Judges 11:33 Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit dua puluh kota banyaknya dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel.

Nah bagian ini mirip sinetron sebenernya, pas pulang yang keluar pertama menyambut si Bapak Yefta ini adalah putrinya yang tersayang

Judges 11:34 tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan.

Eng ing eng… sedih de

Judges 11:35 Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur."

Hiks hiks sedih!!, tapi anak perempuannya ini berjiwa pemberani bo!, die bilang gini

Judges 11:36-37 Tetapi jawabnya kepadanya: "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu." 37 Lagi katanya kepada ayahnya: "Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku."

Dan si putri ini dua bulan pegi…

Judges 11:38-39 Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. 39 Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki.

Dan pas baca itu gw Cuma bisa bereaksi

‘huaaa huaaa huaaa tegaaa!!!’



gw kembali teringat pertanyaan yang disampaikan ibu leslie ludy dalam bukunya yaitu siap dan maukah kita klo pada akhirnya pria itu tidak pernah datang. masihkah kita percaya dan mengasihi Dia?

bacanya jangan asal baca aja, coba diresapi pertanyaan macam itu, bukan perkara mudah untuk menyerah semua mimpi (atau ngimpi?ihihihi) dan harapan yang selama ini dipegang erat. Menyerahkan impian ‘happily ever after’ itu!!

Nah pas baca itu dan teringat pertanyaan itu gw mikir,

‘aih jangan jangan, jangan jangan ni…, Tuhan pengen gw gak kenal lelaki??, Tidaaak!!!’

Bukan… Bukan berarti Tuhan dengan bibir tersungging dan tersenyum sinis, serta alis naik naik (efek nonton sinetron lagi), merancangkan kita jadi perawan tua yang menjahit ditemani kucing. Bukan bukan…

Karena gw pernah berpikir begitu, dengan sudah berlutut lagak kayak udah siap menderita jiwa raga, menyerahkan hidup buat Dia, Tapi ketika itu Tuhan malah mengingatkan gw

Jeremiah 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Ihihihi jadi malu, belagak siap menderita…

Dia hanya ingin kita tidak terlalu terkonsumsi oleh hal macam cinte-cinte mulu..

(Kecuali emang ada pangilan khusus ya… beda kisah ni)

Misalnya si anak perempuan Yefta itu, dia harus menjadikan ‘tidak pernah kenal laki-laki’ itu sebagai korban bakarannya.

Dan korban bakaran itu luar biasa loh, karena Si bapak Yefta berhasil mengalahkan dua puluh kota! Dua puluh kota cing!

ke-single-an bisa menjadi korban bakaran, yang bisa dipakai untuk menjaring banyak jiwa!! Seperti contoh kasus ibu Amy Charmichael misalnya…

tapi tiap orang beda korban bakarannya…

(kalo si bapak Yefta korban bakarannya adalah anaknya, atau keturunannya, soalnya si anak perempuan itu kan anak tunggal bo, jadi si bapak Yefta gak bisa nimang cucu deh…)

kalo pun panggilan ada untuk tidak menikah, pasti Tuhan perlengkapi kan pastinya…

yah itulah yang gw dapet, gimana? Gimana?

Ada yang lain?

jadi inti dari gw ngomong panjang lebar ini apa?

Intinya

Jangan sembarangan bernazar! Ihihihihihih, becanda…

-JL-


Run.. run... run..


Thursday, October 23, 2008
4:11 PM

Kesepian

Kesepian Again..
Mazmur 46:11
Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 108; Yakobus 5; Yehezkiel 21-22
Jika Anda seorang pemimpin, kemungkinan untuk mengalami kesepian itu cukup besar, karena seperti pohon kelapa yang menjulang tinggi, semakin tinggi posisi Anda, semakin Anda sendirian. Rasul Paulus, seorang pemimpin besar dalam kekristenan, menulis tentang kesepian yang dihadapinya, "... semua mereka yang di daerah Asia kecil berpaling daripadaku..." (2Tim 1:15).
Tak heran, penulis Kristen A.W. Tozer mengatakan, "Kebanyakan dari orang-orang besar di dunia adalah mereka yang kesepian." "Itu bukan disebabkan karena para pemimpin itu berusaha menarik diri dari orang lain, tapi natur dari peran kepemimpinanlah yang menyebabkan pemimpin mengalami hal itu," ujar penulis besar Charles Swindoll.
"Karena itulah, mereka yang Tuhan taruh sebagai pemimpin harus belajar bernafas di udara yang sangat tipis di ketinggian puncak gunung, dan mengalami kelegaan serta penghiburan yang dari Tuhan saja. Sebab hanya di ketinggian-lah visi dapat dilihat dengan lebih jelas," tegas Charles Swindoll dalam bukunya, "The Quest for Character."
Kesepian dapat menjadi padang gurun yang mengerikan, tapi kesepian juga dapat menjadi jalan setapak untuk mengalami Tuhan dan kekuatanNya. Di tengah kesepian, pemimpin bisa belajar untuk mengalami ketenangan supranatural yang dari Allah, sebab Dialah yang berkuasa atas segala kondisi, masalah, dan masa depan kita.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Run.. run... run..


Monday, October 20, 2008
11:57 AM

Tujuh karakter Sukses yang sejati

Tujuh Karakter Sukses yang Sejati

oleh: Pdt. Eddy Fances, D.Min.



Sebagai seorang yang telah ditebus oleh Kristus dan ditempatkan dalam dunia ini, seharusnya kita berpikir bahwa Allah memiliki tujuan yang mulia dalam kehidupan kita. Tujuan yang termulia adalah agar kita semua dapat mencerminkan “gambar dan rupa Allah” yang telah dipulihkan dalam Kristus. Dengan kata lain, kita akan berfungsi maksimal dalam hidup dan pelayanan di dunia ini sesuai dengan kehendak-Nya; yaitu mencapai “kesuksesan” menurut definisi dan ukuran Allah sendiri.

Sukses menurut definisi Allah adalah adalah sukses yang dicapai ketika di dunia ini, dengan melakukan kehendakNya, dan pada saat kematian nanti, kita disambut oleh Tuhan Allah dengan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21&23). Tidak ada kesuksesan yang melebihi pujian ini, bukan? Saya yakin tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak merindukan pujian langsung dari Allah yang Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Baik an Maha Besar itu. Dua bagian Firman Tuhan di atas memberikan kita fondasi dalam hidup dan pelayanan yang sungguh sukses di mata Tuhan dan di mata manusia. Sungguh benar, dari pihak Tuhan, Dia menjanjikan kesuksesan yang sejati sebagai sesuatu yang dapat dicapai, nyata, dan sungguh membahagiakan. Sedangkan dari pihak kita, manusia, dituntut tanggung jawab yang baik dan setia dalam menggunakan apa yang sudah dipercayakan kepada kita. Tentunya hal ini akan berhasil jikalau kita bersandar penuh kepada Firman Tuhan, yang adalah satu-satunya standard iman, moral, dan aktivitas kita sehari-hari.

Sekali lagi saya ulangi, sukses bukan soal kekayaan, bukan soal sex, bukan soal kuasa, bukan soal kesehatan, bukan soal tercapainya sebuah cita-cita, bukan soal nomor satu, bukan soal bebas dari permasalahan. Bukan. Bukan soal sesuatu yang bersifat materi yang fana, melainkan sesuatu yang bernilai kekal; namun bisa dicapai ketika masih di dunia ini. Inilah anugerah yang besar. Dengan karunia yang Tuhan titipkan kepada kita ketika masih hidup di dunia dengan waktu yang terbatas dan fana ini, kita diberikan kesempatan untuk menghasilkan sukses yang bersifat kekal, tidak terbatas dan baka. Fondasi kesuksesan ini sesungguhnya bukan bersifat eksternal, melainkan internal. Bukan soal materi atau sesuatu lain yang lahiriah; melainkan lebih soal batiniah. Soal karakter yang internal, namun bisa dinyatakan dalam hidup dan pelayanan yang eksternal dan nyata. Selanjutnya saya akan membagikan tujuh karakter utama sukses yang sejati, yang merupakan modal utama dalam membangun sukses di dunia dan di akhirat.



1. Integritas
Sebagian orang sukses di dunia ini dikenal dengan ketidak-jujurannya. Sebagian lagi sungguh telah mengkombinasikan kesuksesan dan kejujuran. Kita harus berani jujur dan berpegang pada kebenaran dan prinsip walaupun kadangkala merasa dirugikan. Integritas sebenarnya jauh melampaui apa yang disebutkan sebagai kejujuran. Integritas adalah sebuah karakter yang di dalamnya terdapat hati yang tulus, jujur, berani membayar harga atau mengambil resiko demi mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keadilan. Integritas juga mencakup semua aspek kehidupan secara utuh dan satu. Tidak ada karakter yang lebih penting daripada sebuah integritas karena ia merupakan modal utama untuk mencapai kesuksesan baik dalam hidup, karier, pelayanan, dan dalam membangun relasi dengan sesama manusia. Setiap orang yang sudah percaya kepada Kristus ibarat ciptaan yang baru dalam Kristus yang akan tarus dibentuknya agar mencerminkan karakter Tuhan sendiri. Dengan demikian dunia akan melihat refleksi Kristus dalam diri orang percaya. Rasul Paulus menuliskan Firman Tuhan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17).

Tahukah Saudara bahwa piano yang paling baik dan mahal harganya adalah piano Steinway? Keberhasilan piano ini duduk pada tingkat paling atas karena pembuatannya yang unik dan khusus. Lebih kurang 143 tahun yang lalu Henry Steinway menyewa 200 orang seniman dan para ahli di bidang perkayuan untuk dikombinasikan dalam pembuatan piano Steinway yang pertama. Mereka berhasil membuat bagian-bagian dari piano itu yanag terdiri dari 12.000 potongan. Bagian yang paling penting dan sulit adalah proses pembuatan bagian yang melengkung dengan menyatukan 18 lapisan kayu ‘maple’ yang panjangnya kira-kira 7 meter; lalu ditekan dengan tekanan tinggi dan dilengkungkan dengan mesin yang khusus dalam suhu tertentu. Proses ini menghasilkan bentuk dari sebuah “grand piano” yang diisi dengan tali senar piano yang panjangnya bervariasi. Selanjutnya harus digosok dan dipernis dengan kualitas yang terbaik sebanyak lima lapisan yang kesemuanya dikerjakan dengan tangan, agar bisa menghasilkan piano yang berkilauan penampilannya. Setelah itu dimasukkan dalam Ruangan Pemukul di mana 88 kunci piano dikerjakan secara teliti dan diuji sampai 10.000 kali untuk kemudian dipasang dengan sangat hati-hati sehingga hasil akhirnya sungguh-sungguh halus dan sempurna tanpa cacat.

Ibarat piano Stenway yang terkenal dan mahal harganya karena ‘integritasnya’ yang tinggi, demikian pulalah orang yang sukses di dunia dan di akhirat memiliki intergritas yang tinggi, yang mencerminkan kehidupan dan pelayanan Kristus di dunia ini. Janganlah Anda pernah ‘menjual’ integritas Anda dengan harta kekayaan walalupun jumlahnya sebesar bola dunia. Ibarat Yudas Iskariot yang menjual Tuhan Yesus dengan 30 keping perak dan akhirnya gagal dan mati bunuh diri, demikianlah orang yang
2. Disiplin
Kesuksesan sebuah negara tidak tergantung dari berapa banyak sumber alamnya. Lihatlah Jepang yang penuh dengan tanah bergunung batu dengan sumber alam yang amat minim. Namun ia menjadi negara yang sangat sukses dalam teknologi, ekonomi, dan industri, bahkan dalam pertanian modern. Kesuksesan sebuah negara tidak tergantung dari usianya. Lihatlah Australia, Canada, dan Amerika yang usianya jauh lebih muda dari India dan Mesir. Namun negara tersebut jauh lebih maju dan sukses dibandingkan dengan India dan Mesir. Kesuksesan sebuah negara tidak tergantung dari luas wilayahnya. Lihatlah misalnya Singapura dan Swiss yang sempit, namun banyak orang kaya yang menyimpan tabungan mereka di negara tersebut. Bagaimana dengan Indonesia? Kita memiliki wilayah yang luas dan sumber alam yang berlimpah, namun dapatkah Indonesia digolongkan sebagai negara sukses? Mengapa negara-negara yang kita sebutkan diatas bisa disebut sukses? Apa rahasianya? Kata kuncinya adalah disiplin. Ya. Disiplin dalam banyak hal – penggunaan waktu, energi, hukum, pendidikan, dan berbagai aspek lainnya.

Untuk sukses kita harus bekerja lebih rajin dan lebih keras. Jikalau kita bangun lebih pagi satu jam dari biasanya setiap pagi, kita akan memiliki 365 jam setahun lebih daripada orang lain untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih baik, efektif, kreatif, dan produktif. Untuk berdisiplin seseorang perlu membayar harga dengan “memaksa diri” terlebih dahulu hingga akhirnya menemukan bahwa disiplin itu adalah sebuah harta yang perlu dikejar dan dijalankan dengan baik dan teratur daripada sesuatu yang ditunggu-tunggu. Tentunya sekali lagi, harus ada keseimbangan yang baik dan bijaksana. Bukan asal kerja keras, ngotot, dan memaksa diri yang mengakibatkan dampak-dampak yang negatif. Sebenarnya hidup disiplin itu tidak harus hanya dalam bekerja dan berproduksi. Dalam hal-hal lain yang membuat rileks pun, disiplin tidak kalah pentingnya. Misalnya: waktu untuk keluarga, olah raga, piknik, dan lain sebagainya. Orang yang menjaga disiplin secara seimbang dalam semua aspek hidup ini akan mendapatkan kesukesan secara seimbang pula.

Saya mendengar kesaksian tentang Johan (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda Kristen yang setia beribadah, hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya, dan setia melayani Tuhan dalam Komisi Sekolah Minggu Anak-Anak. Suatu hari ia ditawari pekerjaan baru dengan gaji dua kali lipat plus bonus mobil baru dan rumah dinas. Tanpa berpikir panjang Johan menerima tawaran pekerjaan baru itu dengan syarat bersedia msuk kantor jam berapa saja dan kerja lembur jika diminta oleh boss. Bulan pertama dijalani dengan baik dan normal. Bulan kedua bertambah sibuk karena jam kerja yang panjang plus sering lembur pada akhir pekan. Berulang kali janji yang sudah dibuat untuk acara keluarga dibatalkan. Istri dan anak-anak mulai merasakan kekecewaan. Bulan-bulan ternyata bertambah buruk karena hari Minggu juga sering dipakai untuk kerja lembur. Akibatnya ibadah Johan dan pelayanannya terganggu sama sekali. Mau tidak mau ia harus absen dari ibadah dan membatalkan pelayanan demi pekerjaan yang memang menghasilkan uang yang lebih banyak.

Apakah Johan dan keluarganya lebih bahagia dengan uang dan fasilitas yang lebih limpah? Tidak. 100% tidak. Istrinya sering merasakan kesepian karena Johan jarang sering pulang malam dan ke luar kota. Anak-anak merasa kehilangan tokoh ayah yang bisa diajak berkomunikasi, tempat meminta nasihat, bermain bersama, bersenda gurau, dan belajar bertumbuh dalam banyak hal. Johan sendiri merasakan kelelahan fisik karena volume kerja yang tidak normal dan kurang istirahat. Jiwanya terasa kering karena tidak ada waktu berdoa, membaca Firman, beribadah, bersekutu dan melayani. Hidupnya sesungguhnya hanya untuk bekerja dan bekerja dan bekerja tanpa mendapatkan kepuasan dalam aspek-aspek lainnya.

Akhirnya Johan sadar bahwa dirinya telah menjadi budak pekerjaan dan budak uang. Hidupnya telah dikontrol oleh uang yang telah menutup mata hati dan pikirannya sehingga ia kehilangan banyak berkat Tuhan dan kebahagiaan yang tidak mungkin dibeli dengan uang. Dengan hikmat dan kekuatan dari Tuhan Johan berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan yang telah membuatnya “keluar dari jalur” sesuai dengan Firman Tuhan. Kini Johan dan keluarganya kembali menikmati hidup yang bahagia dan penuh berkat dalam segala aspek yang ada. Tuhan telah menyadarkannya hingga ia kembali ke jalur yang benar, yaitu jalur Tuhan.

Sekali lagi, disiplin yang menbuat seseorang lebih rajin dan lebih bekerja keras tentunya tidak sama dengan keserakahan yang tidak pernah puas dengan apa yang dikaruniakan Tuhan. Keserakahan dapat membuat orang lupa diri, disilpin menyadarakan seseorang akan keterbatasan dirinya. Keserakahan membuat orang tidak tahu bersyukur, disiplin membuat seseorang senantiasa rendah hati dan beryukur atas karunia Tuhan. Alkitab memberikan peringatan secara serius, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (Ibr. 13:5a; 1Tim. 6:10). Orang yang sukses adalah orang yang memiliki disiplin dalam kerangka dan pagar kebenaran Firman Tuhan.


3. Cinta Kasih
Cinta kasih adalah karakter selanjtunya yang harus dimiliki seseorang yang nginhidupnya sukses di dunia dan akhirat. Cinta kasih ini bukan sembarang cinta kasih, namun cinta yang diterimanya dari Kristus yang sudah rela mati baginya diatas kayu salib di Golgota. Kasih yang rela berkorban, kasih yang tidak mementingkan diri, kasih yang membayar ‘harga mahal’, kasih yang ilahi, kasih yang tak bersyarat. Rasul Paulus menuliskan karakter kasih ini dalam suratnya kepada jemaat Korintus yang sedang berselisih dan bertengkar. Dia ingin mereka mengajar karakter ini sebagai ‘alat’ yang memulihkan luka-luka perselisihan dan membangun kembali hidup yang sukses dan berkenan kepada Allah. Dia sebutkan bahwa kasih itu, “sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” (1Kor. 13:4-8a).

Cinta kasih yang sedemikian dapat menjadi alat yang memberikan kestabilan emosi kepada seseorang. Dengan demikian dia akan terhindar dari sifat keserakahan, pemarah, keras kepala, otoriter, dan kasar. Untuk mendapatkan cinta kasih ini, sekali lagi diulangi, seseorang harus terlebih dahulu mengalami cinta kasih Kristus dari Kalvari. Kasih Kristus itulah yang memotivasi, dan memacu emosinya untuk berbelas kasih dan berbuat kasih yang nyata kepada orang lain. Dengan senantiasa mengingat kasih Kristus yang dinyatakan-Nya di atas kayu salib, hati kita akan diluluhkan dan dibentuk agar menyerupai Kristus. Jikalau kita membangun relasi kita dengan orang lain dengan cinta kasih dari Kristus, pastilah kehadiran kita senantiasa menjadi berkat yang membangun semangat orang lain, dan mendorong orang lain untuk hidup dengan saling mengasihi. Hasilnya, kebencian, dendam, iri hati, marah, dan hati yang egois akan lenyap dan digantikan dengan sukacita, damai, dan kebahagiaan. Dengan demikian kesuksesan yang sejati akan tercapai dengan nyata pula.

Sekelompok anak muda yang menamakan diri “Ketupat Agape” (Kelompok Tukar Pendapat Agape) berkumpul bersama di senuah kolam renang sambil makan-makan dan berdiskusi. Topik diskusi sesuai dengan nama kelompoknya yaitu tentang “agape” (kasih ilahi). Si A memulai percakapan dengan menanyakan apa itu definisi kasih ilahi. Si B mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa kasih adalah sebuah kata benda yang perlu dijelaskan secara vertikal. Si C meramaikan diskusi dengan mempersoalkan apakah perlu menjabarkan kasih secara vertikal atau horizontal, atau sirkular, dls. “Yang penting kan kasih itu sesuatu yang ada di dalam hati kita”, lanjutnya dengan semangat. Si D menambahkan: “Bagi saya kasih itu yang penting bertujuan baik, lepas dari caranya bagaimana, definisinya apa, yang penting untuk kebaikan.” Si E tak mau kalah. Dia menangkis: “Lho, tetapi kebaikan itu kan relatif dan subjektif. Ukurannya apa dong?”

Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba seorang anak kecil yang kira-kira berumur 4 tahun terjatuh ke dalam kolam renang. Tangannya mengapai-gapai sambil mulutnya mulai meminum air. Si A berteriak: “Hei, anak siapa itu?” Si B menyahut: “Siapa yang pintar berenang?” Si C ikut berdiri namun hanya berteriak: “Panggil orang tuanya dong!” “Gawat, dia mulai tenggelam”, kata si D sambil menunjuk kepada si anak. Tiba-tiba, “byuuurrrr.” Salah seorang anggota ketupat melompat ke dalam kolam dan menolong sang anak dan membawanya ke pinggir kolam. Selamatlah dia dari ancaman maut. “Wow, siapa itu yang menolong?”, tanya si E antusias. Ternyata dia bernama “Agapao”, anggota ketupat yang sejak tadi belum bersuara dalam diskusi kasih, namun telah mempraktikkan kasih yang nyata. Kasih itu sesungguhnya adalah ‘kata kerja’ yang aktif dan dinamis. Bukan kata benda yang pasif dan mati.

Alkitab menyaksikan bahwa kasih Allah menjadi nyata ketika diberikanNya Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus, menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita (baca: 1Yoh. 4:9-10). Demikianlah setiap orang kepunyaan Allah juga diperintahkan untuk mengasihi dengan kasih yang sudah diterima dari Allah. Yakni kasih yang aktif, dinamis, yang rela memberi bahkan berani berkorban, yang berani mengamnbil resiko, berani membayar harga yang mahal. Rasul Yohanes menuliskan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1Yoh. 4:18). Adakah sesuatu yang menghalangi Anda mempraktikkan cinta kasih dari Kristus untuk membangun, melayani, dan menlong orang lain? Kalahkan kekuatiran, ketakutan, dan keraguan Anda sekarang juga! Dan mulailah mengasihi secara nyata dan secara maksimal.


4. Fleksibel
Seorang yang sukses adalah seorang yang dapat membaca situasi, kondisi, dan tantangan dengan sigap. Selain itu ia dapat segera mengadaptasi, mengubah kondisi dan mengantisipasi segala hal dengan baik pula. Bagi dia perubahan itu baik, bukan menakutkan, asalkan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Sesungguhnya orang percaya yang sudah ditebus Kristus akan menampakkan “perubahan” yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus dalam dirinya yang mengubahnya ke arah yang baik, benar, dan adil. Inilah yang disebut dengan “proses pengudusan.” Selain itu dia juga berfungsi sebagai “agen perubahan” yang membawa dampak yang positif – baik, benar, dan adil bagi lingkungan dan sesamanya. Namun bukan secara paksa, melainkan secara fleksibel, yaitu: dengan arif, kreatif, efektif, dan produktif, tanpa harus mengorbankan Firman Tuhan (kebenaran) yang mutlak dan tidak berubah.

Fleksibel tidak sama dengan kompromi. Orang yang feksibel adalah orang toleran – artinya dia dapat menerima perbedaan pendapat dan perbedaan lainnya dari orang lain. Dia menghargai perbedaan, namun tidak harus menjadi “serupa” dengan orang lain. Orang yang kompromis adalah orang yang tidak memiliki pendirian dan prinsip kebenaran. Dia berubah-ubah sesuai “arus” yang ada. Dia bersedia menjual ‘kebenaran’ untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Orang yang fleksibel jelas harus toleran, namun tidak menjadi kompromis.

Coba perhatikan contoh cerita di bawah ini. Suatu kali seorang pejabat mencari seorang sekretaris pribadi yang akan membantu dalam menjalankan tugas-tugasnya. Datanglah tiga pelamar yang mendaftarkan diri. Lalu diadakanlah wawancara. Si A masuk ke kantor sang pejabat. Lalu kepadanya diajukkan sebuah pertanyaan: “Berapa dua dikali dua?” Si A menjawab tegas dan sigap: “Empat pak!” Sang pejabat berkata dalam pikirannya: “Wah, orang ini tegas dan berwibawa, dia tidak bisa diajak kompromi. Pasti kelak akan merepotkan saya.” Lalu dia berkata kepada A: “Kamu tidak diterima, keluarlah!” Lalu masuklah B dan ditanyakan pertanyaan yang sama: “Berapa dua dikali dua?” B berpikir sebentar: “Tadi A jawab empat tidak diterima.” Kemudian dia menjawab: “Tiga pak!” Sang pejabat berkata dalam hatinya: “Wah, ini manusia licik, saya kelak bisa ditipunya!” Kemudian dia berkata kepada B: “Kamu tidak diterima, pulanglah!” Akhirnya masuklah si C. Ditanyakan pertanyaan yang sama. C berkata dalam hatinya: “A jawab empat ditolak, B jawab tiga juga ditolak.” Lalu dia menjawab pejabat itu: “Terserah bapak sajalah. Asal bapak senang!” Sang pejabat berkata dalam hatinya: “Ini yang saya cari!” Akhirnya si C yang diterima.

Inilah salah satu contoh dunia kita sekarang. Dunia yang tidak mengenal Allah ingin kehidupan yang kompromistis, yang tanpa ukuran absolut, yang bisa sesuka-sukanya. Orang-orang sedemkian nampaknya seperti sukses, namun sesungguhnya sedang menuju ke lobang kegagalan yang mengerikan. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa seluruh hidup kita adalah milik Kristus, bukan milik sendiri atau milik dunia. Sebab itu kita tidak bisa sembarangan dengan hidup ini. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor. 6:19-20). Istilah “tubuh” di sini sama dengan seluruh aspek dalam hidup ini. Konsep yang sama diajukan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm. 12:1-2). Perubahan yang dimaksudkan di sini tentunya perubahan dalam kerangka dan pagar “kehendak Allah” yaitu yang baik, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Fleksibilitas yang membuat seseorang semakin mencerminkan refleksi hidup dan pelayanan Kristus.


5. Pantang Putus Asa:
Pantang berputus asa adalah sebuah karakter yang amat penting, berharga, dan amat menentukan dalam perjalanan sukses di dunia dan di akhirat. Suatu karakter yang percaya sepenuhnya kepada karya Allah yang Maha Baik dan Maha Bijaksana. Mereka yang sukses hari ini adalah mereka yang tetap bangun lagi setelah terpukul, terjatuh, dan gagal. Bagi mereka kegagalan atau kejatuhan senantiasa dilihat sebagai “jalan baru” menuju sukses, atau sebagai “batu lompatan” menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan sebagai “batu sandungan” yang menjatuhkan dan mendatangkan keterpurukan tanpa dapat bangkit kembali. Bukan! Sebaliknya sebagai “alat pendidikan” yang mengajar dan menolongnya agar bisa maju dan sukses dengan lebih gemilang secara progresif dan dinamis. Orang yang pantang berputus asa tahu bahwa Allah akan memberikan kekuatan baru dan berkat baru sesuai dengan janji-Nya di dalam segala situasi dan kondisi. Walaupun menurut ukuran manusia, hal itu kurang menguntungkan, namun dengan mata iman dia melihat bahwa Allah dapat mengubahnya 180 derajat hingga menjadi sesuatu yang indah, baik, dan berhasil.

Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, dinamis, dan terus bekerja tanpa henti untuk membentuk anak-anak-Nya agar semakin menyerupai Kristus dalam seluruh aspek hidup dan pelayanan kita demi menjadi kemuliaan bagi NamaNya dan menjadi berkat bagi banyak orang. Dia tidak pernah menjanjikan bahwa seluruh proses perjalanan itu akan mulus, lancar, tanpa tantangan dan kesulitan. Tidak, melainkan dia menjanjikan untuk terus ‘menambahkan energi-Nya’ demi mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya. Perhatikan tulisan rasul Paulus, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:28-29). Ungkapan kunci dalam ayat diatas adalah, “Allah turut bekerja.” Hal ini tidak berarti Allah turut mendatangkan penderitaan, kejatahan, dan kesulitan bila hal itu menimpa. Tidak! Karena pada diri Allah hanya ada natur kebaikan, kasih, dan kesucian. Segala yang jahat datangnya dari Iblis dan perbuatan dosa manusia. “Allah turut bekerja” berarti “Allah akan menambahkan energi-Nya” – kuasa-Nya, hikmat-Nya, karya-Nya, dan kasih-Nya – untuk mengubah yang tidak baik, yang gagal, yang terjatuh, dan penderitaan, dan kesusahan lainnya menjadi “kebaikan” bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Ungkapan kedua yang penting dalam ayat diatas adalah “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” Ini menjadi tujuan akhir yang akan dicapai dlaam proses perjalanan hidup dan pelayanan orang-orang yang percaya. Mereka yang ingin hidup dan pelayanannya sukses di dunia dan dia akhirat akan berpegang teguh kepada janji Tuhan diatas untuk memimpin seluruh hidupnya.

Coba perhatikan perjalanan hidup salah satu tokoh besar Amerika Serikat yang pantang berputus asa:
Umur 22: Dia gagal dalam bisnisnya.
Umur 23: Dia mencalonkan diri dalam badan legislatur – dikalahkan.
Umur 24: Sekali lagi, dia gagal dalam bisnisnya.
Umur 25: Dia terpilih dalam badan legislatur.
Umur 26: Kekasihnya meninggal dunia.
Umur 27: Dia mengalami kerusakan dalam sistim urat syarafnya.
Umur 29: Dia ikut dalam pemilihan Parlemen – dikalahkan.
Umur 31: Dia ikut dalam pemilihan Badan Pemilih – dikalahkan.
Umur 34: Dia ikut dalam pemilihan Badan Kongres – dikalahkan.
Umur 37: Dia terpilih menjadi anggota Badan Kongres.
Umur 39: Dia kalah dalam pemilihan Badan Kongres.
Umur 46: Dia ikut dalam pemilihan Badan Senat – dikalahkan.
Umur 47: Dia ikut dalam pemilihan Wakil Presiden – dikalahkan.
Umur 49: Dia ikut dalam pemilihan Badan Senat – dikalahkan.
Umur 51: Dia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Siapakah dia? Tidak lain adalah presiden Abraham Lincoln. Catatan perjalanan hidupnya hingga menuju ke kursi kepresidenan memberikan kita semangat untuk berjuang pula dengan pantang berputus asa. Firman Tuhan menjanjikan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:13). Paulus yakin 100% bahwa dengan bersandar diri, seseorang akan gagal. Namun bersandar kepada kekuatan ang diberikan Kristus, orang yang beriman akan sukses. Dia mengalami hal ini. Walaupun dia ada di dalam penjara, dia menuliskan surat yang indah dan menguatkan jemaat di Filipi.


6. Rasa Humor
Karakter lain yang amat penting dalam hidup sukses adalah rasa humor. Orang yang sukses adalah orang yang mampu tertawa kepada banyak hal termasuk kepada diri sendiri. Namun, bukan berarti ‘tertawa sendiri’. Itu lain artinya, ha ha ha. Orang yang tidak memiliki rasa humor, pribadinya tidak stabil dan hidupnya rapuh alias kering, mudah patah dan cepat hancur, karena kekakuan hidupnya. Sebab itu memupuk rasa humor adalah syarat untuk menciptakan semua aspek kehidupan menjadi lentur, luwes, dan indah. Mulailah memperhatikan hal-hal yang detail dari setiap aspek hidup ini tanpa harus mengritiknya dan mengejeknya. Sebaliknya nikmati dengan rasa syukur dan belajarlah memandangnya dari berbagai sudut yang berbeda. Maka, secara normal dan bertahap semua aspek hidup ini terasa menjadi lebih indah, manis, dan penuh canda tawa yang membahagiakan. Cobalah! Maka Anda akan mulai banyak tertawa dengan penuh kebahagiaan. Ha ha ha!

Rasul Paulus yang menderita di penjara bukan karena salahnya pun dapat menuliskan surat Filipi yang disebut dengan “surat cinta” atau “surat sukacita.” Dia menasihati jemaat Filipi untuk senantiasa bersukacita karena tidak ada alasanbagi orang percaya untuk tidak bersukacita walaupun dalam kesukaran dan tantangan dalam kehidupan ini. Dia menuliskan demikian, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:4-6). Salah satu rahasia untuk memiliki rasa humor juga adalah senantiasa berpikir positif dan kebaikan dalam banyak perkara yang sering kali belum atau tidak dimengerti. Lalu, dengan hati yang penuh ucapan syukur senantiasa menyerahkan semua kekuatiran yang muncul dalam kehidupan ini. Maka Allah akan mencurahkan sukacita demi sukacita setiap hari dalam hati dan pikiran kita; yang selanjutnya diwujudkan dalam wajah kita yang cerah dan tersenyum, dan dalam pola tingkah laku yang membangkitkan rasa humor yang sehat dimanapun kita berada, dan bagaimanapun situasinya.

Seorang ibu berulang tahun dan kami diundang untuk datang ke rumahnya dan saya diminta untuk menaikkan doa. Lalu saya bertanya kepada isstrinya demikian: “Bila Tuhan akan mengabulkan satu permintaanmu malam ini, apa yang akan ibu minta?” Dia terdiam dan tersenyum sebentar lalu menjawab: “Saya akan minta tubuh yang sehat!” Saya berkata: “Bagus! Bagaiman kalau ditambah awet muda dan tetap cantik?” Saya berkata demikian karena memang ibu ini kelihatan awet muda dan tetap cantik walaupun usianya sudah lebih 50 tahun. Lalu saya berpaling kepada suaminya dan bertanya pertanyaan yang sama: “Kalau bapak, apa yang akan bapak minta?” Sang suami menjawab: “Saya akan minta agar istri saya tetap cantik dan awet muda. Kalau bisa lebih muda 30 tahun dari sekarang.” Semua hadirin tertawa dan bertepuk tangan. Kami sungguh bersukacita dengan humor yang ringan ini. Lalu, saya berkata: “Wah, kalau demikian permintaannya, ada kemungkinan nanti bapak yang akan diubah menjadi usia 80 tahun. Jadi, bukan istri yang tambah muda 30 tahun, tetapi bapak yang tambah 30 tahun. Jadi, bedanya tetap 30 tahun, bukan?” Serentak semua hadirin tertawa lagi terbahak-bahak sebelum kami berdoa bersama-sama.

Perlu diperhatikan bahwa rasa humor yang dipupuk dan dikembankan oleh orang yang sukses haruslah humor yang sehat dan bersih. Bukan humor jorok yang berbau porno, atau yang diskriminatif, atau yang menjatuhkan orang lain. Melainkan yang membangun, yang bersih, yang membangkitkan urat syaraf tertawa yang sehat dan positif. Dunia cenderung mempromosikan humor yang kotor, jorok, porno, dan/atau yang diskriminatif, bahkan yang membangkitkan karakter yang mendiskreditkan golongan atau pribadi atau lainnya, baik secara politis, agama, dan latar belakang lainnya. Hati-hatilah! Jangan terjebak dalam karakter ini. Alkitab mengingatkan kita, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Ef. 4:29).


7. Tahu Berserah
Berserah bukanlah menyerah atau patah semangat. Tetapi senantiasa sadar dan tidak lupa meminta pimpinan, berkat, dan kekuatan dari Allah sebelum melangkah, sedang melangkah, dan akan melangkah dalam setiap aspek kehidupan ini. Orang yang sukses adalah orang yang tidak berjalan sendiri, melainkan dia berjalan bersama Roh Kudus yang memimpin setiap kepurtusan dan langakah-langkah dalam hidup dan pelayannnya di dunia ini.

Orang yang berserah adalah orang yang bersyukur, bukan bersungut-sungut. Orang yang berserah adalah orang yang beriman, bukan orang yang kuatir. Orang yang berserah adalah orang yang rendah hati, bukan yang mengandalkan diri sendiri. Orang yang berserah adalah orang yang membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan tanpa mengajukan syarat apa pun. Karena dia tahu jelas bahwa tanpa Allah yang membukakan “kran berkat,” segala sesuatu yang diusahakan manusia akan sia-sia belaka. Bacalah lagi: Mazmur 127:1-2.

Allah kita adalah Allah yang baik dan yang mengerti pergumulan kita. Dia memberikan “hak istimewa” bagi kita untuk datang berdoa kepada-Nya. Dia sungguh hanya sejauh doa. Perhatikan perkataan Tuhan Yesus, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Matius 7:7-11).

Seorang teman saya menceritakan kesaksiannya ketika dia harus menjalani operasi kista yang ada di indung telurnya. “Saya belum pernah dibius total dan saya mendengar cukup banyak cerita yang bernada negatif, saya sungguh menjadi kuatir dan takut” ceritanya dengan cemas. Memang ada saja cerita yang menguatirkan. Misalnya: soal dokter yang ceroboh hingga gunting ketinggalan di dalam perut, soal pasien yang setelah dibius tidak bangun lagi, soal efek samping obat bius, soal penyakit yang sedang dihadapinya, dan lain sebagainya.

Tibalah hari operasi yang akan dijalankannya. Sebelumnya sudah berdoa dan didoakan, namun kekuatiran itu nampaknya masih ada. Dia berkata: “Ketika persiapan operasi tersebut, saya berbaring di ranjang menunggu didorong masuk ke ruang operasi. Saat itu hati saya amat kuatir dan takut. Tangan saya dingin dan pikiran gundah. Namun, saya ingat kepada Tuhan. Saya berdoa kepada-Nya, dan menyerahkan hidupku kepada-Nya. Ajaib sekali! Tiba-tiba semua kekuatiran dan ketakutan saya hilang. Saya merasa damai dan tenang sekali. Tanpa sedikitpun kuatir dan takut. Saya yakin waktu itu Tuhan mengangkat semua ketakutan dan kekuatiran saya, dan menggantikan dengan damai sejahtera dari sorga. Lalu, saya diberitahu bahwa saya akan dipindahkan ke meja operasi. Saya jawab ‘ya’ dan seketika itu juga saya tidak ingat apa-apa lagi. Ketika saya terbangun, ternyata operasi itu sudah selesai dengan baik dan sukses.”

Puji Nama Tuhan! Allah kita adalah Allah yang Mahahidup dan Maha Mendengar. Dia bukan Alllah yang jauh di sorga sana dan tidak peduli dengan keadaan kita. Memang Dia bertahta di sorga, namun Dia juga dekat dengan manusia yang mau datang memohon kepada-Nya. Firman Tuhan mengingatkan kita: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya (Tuhan Allah), sebab Dia yang memelihara kamu.” (1Ptr. 5:7). Apakah Anda kuatir dan takut menghadapi hidup ini? Jangan lupa datang kepada Bapa dalam Nama Yesus Kristus yang siap menolong dan memberkati hidup Saudara. Dia bukan saja mengerti dan mengetahui pergumulan Saudara; tetapi Dia juga mampu dan mau menolong Saudara lepas dari kekuatiran dan ketakutan yang ada. Ingatlah, Dia hanya sejauh doa!

Orang yang sukses adalah orang yang tahu menyerahkan kekuatirannya dan segala pergumulannya kepada Tuhan melalui doa dan ucapan syukur serta senantiasa mencari dan mendahulukan Kebenaran Allah dan Kerajaan Allah. Karena dia tahu itulah rahasia dari Allah untuk mencurahkan berkatNya dengan berkelimpahan. Tuhan Yesus mengatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat. 6:33-34).



Sumber: http://www.saumimansaud.org




Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
Ricka Barus


Profil Pdt. Dr. Eddy Fances:
Pdt. Eddy Fances, D.Min. adalah mantan wakil gembala sidang di New Life Baptist Church, U.S.A. Beliau meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Alkitab Tiranus (IAT) Bandung dan
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Sam. 16:7b)

Run.. run... run..


Sunday, October 12, 2008
3:14 AM

aku berpuisi (ihihihi)

hehehe gw mu ngeluarin puisi lama gw dulu aaah...
(ini termasuk puisi bukan ya?)
***


Sepi dan dingin dari hujan sore ini mulai menggigit,

membawa satu rasa dalam hati yang tidak dapat terkatakan oleh bahasa pikiran…

Satu rasa yang seperti sebuah minuman yang baru saja aku minum

Campuran dari dua sendok kerinduan, sedikit bahagia, sesendok sepi dan setengah gelas rasa sedih…

Membuat aku merindukanMu Bapa

Membuat aku ingin Engkau temani

Membuat aku ingin menggegam hangatnya tanganMu

Berbagi cerita tentang semua…

Atau mungkin tidak perlu kita berbicara

Hanya berjalan dibawah payung bersama,

bergandengan tangan dan menikmati okestra rintik hujan

Setelah beberapa saat dan aku mulai lelah

Kita pun duduk di bangku yang basah itu

Tak perlu berbicara

Hanya pinjamkan bahuMu

Dan biarkan aku menangis sebentar Bapa

Menangisi ‘sesuatu’ yang tak dapat kuungkapkan

Karena ‘sesuatu’ itu terlalu…

terlalu rumit untuk kurangkai dalam banyak kalimat

Aah.. tapi aku tahu Engkau mengerti bahasa airmata ini

Bapa…

Bapa..

Aku ingin menyerukan kata itu berkali kali

Berkali kali hingga aku lelah dan berhenti menangis

Dan membiarkan hati ku kembali penuh dengan kasihMu

Membiarkan Engkau membalut hatiku yang terluka ini

Setelah aku mengusap airmataku yang terakhir ke lengan bajuMu

Engkau perlahan berdiri

Lalu berkata

‘tunggu sebentar’

tak berapa lama kemudian datang kembali dengan satu bungkus minuman

ternyata Engkau membelikan aku cappuccino mint hangat kesukaanku

Engkau memandangiku yang langsung meminum kopi hangat itu

sambil mengelus-elus kepalaku dan tersenyum

kita berpandangan

Lalu tanpa satu kata pun

Kita tertawa…




*)Terimakasih Bapa ditengah kesibukanMu mengurusi dunia ini, Engkau ada, menyediakan bahuMu untuk tangisku

Thanks cappuccino mint-nya!

-JL-


Run.. run... run..


3:03 AM

naik level

Begini, gw (rasa) cukup tahu firmanMu, gw (rasa) tahu janji janji yang luar biasa, gw tahu…

Bahkan FirmanNya, JanjiNya masuk list ‘my favorite things’

Suka sekali membaca janjiNya

Suka juga membaca pangalaman orang orang yang sudah luar biasa mengalami janji-janji itu, sudah mengalami Tuhan…

Suka sekali, bahkan terkadang ikut ambil emosi,

tepuk tangan/nangis/seneng/kagum kalo lagi baca

Bukan berarti gw gak punya pengalaman itu semua

Punya punya

Tapi ketika gw ikut ambil emosi itu tadi

Dan hati kecil ini terbesit ‘pengen’

Dia pun tanggap setanggap tanggapnya

(‘pengen’ itu tadi bukan pengen terkenal lho, Cuma ingin dikagumi banyak orang ihihihi)

Cuma pengen mengalami merasakan ‘itu’ semua

Cuma pengen kenal Dia lebih dalam lagi

Kembali soal Dia yang tanggap dan yang mendengarkan suara hati terkecil ini

ketanggapaNya itu berati buat kita adalah

naik level

ya

Naik level

Ho ho

Itu ternyata lebih susah dari ujian tertulis manapun

Masih, masih ujian nie (ampe mati juga masih ikut ujian si)

Misalnya, satu ujian yang sebenernya udah basi banget, semua orang, yakin gw, udah pernah ngalaminnya. Mulai dari anak tk ampe aki-aki, pasti pernah, bahkan sering ngalaminnya

Yaitu ujian ‘kuatir’

Kalo naik level berarti ujian kutirnya juga naik bobot

Dulu kuatir gak dapet pacar sekarang kuatir gak dapet suami (haha, sama aja ya?)

Dulu kuatir gak dibawain bonbon (permen) ama emak sekarang kuatir gak dibawain martabak telor ama babeh (haha, sama lagi ya? habis serius banget bacanya, nggak?oh mungkin saya yang lebay)

Yah intinya kuatirnya naik tingkat lah

Obatnya sama gak?

Sama

Ayatnya?

Samalah

Tapi sekarang mungkin akan lebih dipertegas lagi, diri ini akan lebih ‘dikonsumsi’ lebih lagi, diri ini akan lebih hancur lagi

Bahkan mungkin akan kembali berpikir apakah selama ini kita ini pengikutNya atau bukan

Kita akan berpikir ternyata kita cuma ‘anak bawang’

Ternyata airmata/sakithati/kesedihan/ yang dulu itu belumlah puncak pengorbanan kita

Tapi ya itu dia

Itu naik level

Bener deh, ketika gw kembali merenung tentang Dia, gw sampai berpikir

Selama ini mungkin gw hanya berpikir kalo gw percaya sama kesetianNya

Ya…

Gw cuma mikir kalo gw percaya (100%)

Tapi gak bener bener percaya

(gak 100 %)

kok bisa nyimpulin gitu?

Ya karena

Ketika gw mulai ‘rewel’

Gw mulai gelisah

Ya jadi rewel,,, pusing sini pusing sana, takut sini takut sana, ahh grasak grusuklah

Dia cukup menjawab dengan singkat

‘Barangsiapa percaya tidak gelisah’

si anak rewel teteup masih rewel

‘Tapi tapi Tuhan gimana dong ini kalo blablabla’

lalu Dia yang teteup menjawab dengan simple dan gak nekoh nekoh

“katanya suka ayat ini: Galatians 2:20 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Si anak rewel gak berani rewel lagi (tapi sebenernya masih rewel ihiiihih)

Percaya pada Dia adalah hal sederhana yang menjadi hal yang luar biasa sulit nya

Menjadi suatu proses yang luar biasa menyakitkan dan banjir airmata

Tapi itulah naik level

Itulah cara untuk mengenal Dia lebih lagi, mencintai Dia lebih lagi

Itulah cara untuk Dia bisa ‘membanggakan; bejana indahNya pada dunia

Itu caraNya

Naik level

Ya selama kita idup kita seharusnya terus ikut ujian naik level ini

Jadi

Selamat menempuh ujian sajalah kalau begitu

(dan ngegerumbel di tulisan ini pun berhenti)

-JL-


Run.. run... run..


Sunday, October 5, 2008
11:03 PM

TA

ehem ehem, ini postingan buat hana, postingan dari blog gw iihihihihi, yah berbagi aja, pengalman masa masa itu hihihihihi
semoga membantu...


*postingan kali ini puaaanjang, siapkan coki coki anda, kalo ada salah ketik maap kate aja deh*

Beberapa menit yang lalu sebelum tulisan ini akhirnya mulai diketik, gw teringat akan jasa Tuhan yang luar biasa dalam salah satu bagian hidup gw dan gw masih berhutang kesaksian. Apakah itu???

Walupun sebenernya ada bagian yang males untuk diingat, ( pedih jendral!)

Dimulai dengan satu suara

‘udah kamu ngulang aja ya, nanti kamu presentasi lagi didepan kami’

dan setelah mendengar suara itu, gw tau rasanya jadi kuntilanak, gak mijak tanah, ngawang ngawang

hari itu sekitar pertengahan agustus, yaitu hari seharusnya dimana gw tidak lagi jadi mahasiswa. Seharusnya hari itu jadi hari indah, tapi…

tetooot…

gagal!

Gak jadi deh wisuda oktober!

Bayangin mata kuliah ngulang itu biasa, nah gw sidang suruh ngulang?!

Lebih lagi tema gw dirombak, walaupun gak ganti bahan, tapi berarti pembahasan gw totally berubah.

Jangan salah sangka gw males ngerjain TA (tugas akhir) gw ya, no!

Tiap hari selama berbulan bulan kerjaan gw Cuma di lab, tiap hari kerjaan gw Cuma ngeliatin computer, dari jam 9pagi sampai jam 7an.

Dosen pembimbing gw ada dua, yang satu sibuknya luar binasa, beliau bernama Pak. Sanny.

Ntah dah berapa sms dia yang berisi kata maaf.

“maaf saya ada rapat mendadak”

“maaf hari ini saya harus ke Jakarta”

“maaf saya selama seminggu ada di India”

pas lagi ada di jurusan, hilangnya udah kayak the flash, sekali lengah hilanglah dia

pernah suatu ketika gw lagi nunguin beliau yang lagi bimbingan sama S2, gak enak dong gw ganggu, maka gw nungguin beliau, di ujung sebelahnya, semenit gw nyapa adek kelas, eh pas gw inspeksi ke ujung sebelah beliau sudah tak ada.

Gw kejar di tangga, beliau juga udah gak ada.

Ckckck, mungkinkan identitas the flash terungkap?

Ntah kapan gw bisa ketemu dengan beliau lagi. Hiks..

Pembimbing gw satu lagi sering ada dikampus, hanya saja, dia selalu pasang tampang –awas-gw-belum-makan-seminggu, beliau adalah Pak Alfian, jangan pernah bertanya kalo gak mentok tok tok, bakal dihajar sama beliau. Siksaan mental luar biasa, seketika lo akan meraggukan lo normal atau ada gangguan otak, lo akan merasa bego. Ckckckck penyakit yang disebarluaskan hebat juga ya

“waaaahh… saya ya ndak tau, kamu baca dong!”

makanya gw sering berkonsultasi dengan dosen lain, dari jurusan lain (yang berhubungan tentunya). Yang menganjurkan tema gw yang akhirnya ditolak.

Gw gak bahas kenapa di tolaklah ya…, panjang dan panjang dan panjang soalnya

Intinya gw mesti ngulang sidang, karena seharusnya dengan sidang itu gw dapet B+, sedangkan gw butuh dapet A untuk ipk menembus 3.

Kesalahan akibat euphoria yang kelamaan dan ketidakmengertian cara belajar orang kuliahan

Hari itu jadi hari yang maling ngawang yang pernah gw alamin, sayangnya gw gak bisa langsung pulang kekosan dan nangis Bombay. Gw harus mengahadapi banyak pertanyaan orang dan telepon ortu. Selain itu juga harus memberi selamat temanku, zaki, yang lulus sidang dengan nilai A, ketawa-tawa bareng sama anak-anak.

Kalo gw inget hari itu,, gw pikir kok gw bisa ya??

Ckckck… kalo bukan Tuhan yang gendong gw hari itu, mungkin permisi beli hit (karena lebih murah) untuk jadiin jus.

Sampai kosan, gw belum bisa nangis, Karena ada mbak yanda, temen angkatan gw, yang ingin mengibur, dengan membawakan gw lo mie lezaaat.

‘thanks buat lomienya nda’

nah setelah gerbang gw kunci dan masuk kamar, tiba tiba kamar gw seperti penuh dengan spanduk

‘bego bego bego bego’

sekeliling kamar.

‘makanya sok pinter siii, ngapain juga kuliah disitu, dah tau bego! Hwahahaha’

langsunglah daku ini termehe-mehe. Semaleman gw nangis!

Untung besokannya gw gak perlu kekampus, karena mata gw dah kayak mata ikan, bengkak total!!!.

Gw Cuma bisa nangis, dan bertanya sama Tuhan

“why God, why me?? “

dan Dia menjawab

krik krik krik

dan kembalilah gw jejeritan (untung gak sampai epilepsi yak, hehehe)

semua penyesalan datang bertubi tubi

lusanya pas gw kekampus untuk asistenin, yang dimana doennya adalah pak alfian, dari rumah gw udah mengeraskan muka dan menguatkan hati.

Saat itu gw baru tau kebenaran pepatah ‘muka badak’

Karena gw merasakan hal itu, muka gw serasa mengeras, sekeras muka badak (mungkin) dan berusaha menampilkan senyum

‘I’m fine thank you’

setiap hari gw bergumul untuk belajar menyerahkan masa depan yang gak jelas ini kedalam tangan Tuhan, gw bergumul untuk memaafkan diri gw sendiri, dengan keputusasaan gw.

Bukan setiap hari tapi setiap waktu.

Belum lagi rasa males yang luar biasa untuk nyentuh kembali TA gw, pernah gak males mandi pagi karena kedinginan?, atau males bangun pagi?

Pernahkan? Nah kalikan 50, itulah rasa males gw.

Bayangkan harus mencari penekanan baru, yang berarti gw harus nyari ‘itu’ apa, baca lagi dan memahaminya.

Yaiiiiiks! ( yah akhirnya ketemu, dekonvolusi f-xy, apakah itu?? Gak penting)

Dan rasa sedih karena bapak setan selalu mengingatkan gw dengan moment itu (thanks juga buat om tan, I’m grow up now)

Gw nie tipikal mellow goeslow banget kalo di depan Tuhan, kalo depen temen2 sii, seinget gw Cuma dua kali nangis deh, pertama karena waktu itu gw laper banget (nb: gw kalo lagi laper suka pengen nangis) dan yang kedua waktu nonton one litre tears (yang memang film tersedih sepanjang sejarah)

Kerjaan gw Cuma curhaaaat mulu sama Tuhan, kalo Tuhan jadi psikiater mungkin dah jadi jutawan dengan punya pasien kayak gw doang.

Dikit dikit nangis kalo keinget lagi

Lagi gosok gigi –nangis-

Milih baju buat kekampus –nangis-

Ngeringin rambut –nangis-

Buka pintu mau berangkat –nangis-

Mellow banget kan??!!!

Tapi sesedih itulah gw dulu

Susah rasanya ‘forgeting what I’ve done’ (kalo kata linkin park)

Tapi hebatnya semales apapun gw sepertinya selalu ada yang menyuruh gw untuk ngerjain TA gw lagi, cari penekan baru, download paper, baca paper, sms pak sanny, dll

‘climb this mountain yooo!!’

begitulah kira kira

setelah padang gurun sahara yang banjir airmata itu, gw sidang tanggal 5 desember 2007. malem sebelumnya pun gw bergumul

‘kalo gw dapet b gimana? Kalo gw gak bisa jawab gimana? Kalo gw grogi presentasi gimana?’

Pertanyaan yang bisa bikin muntaber

Tapi pren…., rasa males gw mengalahkan semuanya.

You know what, gw bukannya belajar presentasi atau bahkan berdoa semalam suntuk (gw berdoa Cuma gak semalem suntuk dong, bisa tewas gw besoknya).

Gw tidur!! Totally tidur, bangun sebentar untuk matiin alarm.

Tapi toh gw mesti bangun dan presentasikan?

Waktu gw melangkah keluar kamar gw, gw berpikir

‘Tuhan, dengan kekuatan apa aku bisa presentasi didepan monster-monster itu, aku dah gak punya kekuatan apa apa Tuhaan’

dan setiap langkah gw Cuma menyebut lagu hillsongs yang jadi theme lagu gw semalaman

‘I’ll follow You, no matter where, no matter where-lah God’

ada enam dosen yang ada dalam ruang sidang, yang siap menanyai gw. Dua diantaranya dosen pembimbing gw tentunya. (mereka baik sekali ko sebenernya, gw sangat dibantu di ruang sidang, ahuhuhhu)

waktu gw melangkah masuk rasanya papan didepan ruangan itu bukanlah ‘ruang sidang’ tapi ‘ruang pengulitan kulit domba’

dan gw adalah dombanya yang cuma bisa mengembik

hiks. Hiks Eh salah bik bik bik

Setelah sejam dibantai akhirnya gw disuruh keluar, menunggu mereka berdiskusi, di luar gw merasa emm gak berasa apa apa, kembali menjadi kunti, ngawang

Tapi perasaan ngawang itu disadarkan oleh suara yang memanggil untuk masuk lagi ke ruang pengulitan.

Perut gw mules

Didalem mereka malah becanda

‘kamu ngulang lagi ajalah ya.” Sambil ketawa

Dalem hati sambil mencelos

‘emang loe pada kira enak apa????’

Tapi yang keluar Cuma cengegesan saja

‘he he he jangan pak’

tapi inilah dia yang gw nanti nantikan

ketika suara itu berkata

‘A min’

hueheehehehehhe…, pengen rasanya jungkir balik, kayang dan lompat harimau, gulung (lho kok jadi ipdn??)

thanks God…!!!

Dan ketika gw menoleh ke hari itu, yang pasti kenapa gw bisa lewatin, itu Cuma karena anugrah Tuhan semata.

Aaaah Tuhankuw baik sekali.

Bayangin orang yang mellow dan oon ini bisa ngelawatin itu semua dan jadi pemenangnya???

Hohohohoho

pasti bukan gw.

Dan dengan itu pula gw mau memandang masa depan gw ke depan.

Tuhan itu baik dan selalu baik

“janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu sipu…..” Yes 54:4a

(ayat yang gw dapet semalem sebelum final sidang)


Run.. run... run..