Sepi dan dingin dari hujan sore ini mulai menggigit,
membawa satu rasa dalam hati yang tidak dapat terkatakan oleh bahasa pikiran…
Satu rasa yang seperti sebuah minuman yang baru saja aku minum
Campuran dari dua sendok kerinduan, sedikit bahagia, sesendok sepi dan setengah gelas rasa sedih…
Membuat aku merindukanMu Bapa
Membuat aku ingin Engkau temani
Membuat aku ingin menggegam hangatnya tanganMu
Berbagi cerita tentang semua…
Atau mungkin tidak perlu kita berbicara
Hanya berjalan dibawah payung bersama,
bergandengan tangan dan menikmati okestra rintik hujan
Setelah beberapa saat dan aku mulai lelah
Kita pun duduk di bangku yang basah itu
Tak perlu berbicara
Hanya pinjamkan bahuMu
Dan biarkan aku menangis sebentar Bapa
Menangisi ‘sesuatu’ yang tak dapat kuungkapkan
Karena ‘sesuatu’ itu terlalu…
terlalu rumit untuk kurangkai dalam banyak kalimat
Aah.. tapi aku tahu Engkau mengerti bahasa airmata ini
Bapa…
Bapa..
Aku ingin menyerukan kata itu berkali kali
Berkali kali hingga aku lelah dan berhenti menangis
Dan membiarkan hati ku kembali penuh dengan kasihMu
Membiarkan Engkau membalut hatiku yang terluka ini
Setelah aku mengusap airmataku yang terakhir ke lengan bajuMu
Engkau perlahan berdiri
Lalu berkata
‘tunggu sebentar’
tak berapa lama kemudian datang kembali dengan satu bungkus minuman
ternyata Engkau membelikan aku cappuccino mint hangat kesukaanku
Engkau memandangiku yang langsung meminum kopi hangat itu
sambil mengelus-elus kepalaku dan tersenyum
kita berpandangan
Lalu tanpa satu kata pun
Kita tertawa…
*)Terimakasih Bapa ditengah kesibukanMu mengurusi dunia ini, Engkau ada, menyediakan bahuMu untuk tangisku
Thanks cappuccino mint-nya!
-JL-